DESA BUNTARAN

Buntaran adalah salah satu desa di Kecamatan Rejotangan. Desa ini memiliki wilayah 214.180 hektar.
Jumlah penduduknya sebanyak 4.384 jiwa, terdiri dari 2.205 laki-laki dan 2.179 perempuan. Jumlah kepala keluarga 1.431 jiwa.

Sebagian besar lahan dipakai untuk usaha pertanian sawah, tegal/ladang, pemukiman, dan pekarangan. Usaha sawah didominasi oleh tanaman pangan padi, sedangkan usaha hortikultura menghasilkan komoditas tebu dan buah rambutan sebagai buah musiman. Usaha ekonomi unggulan masyarakat lainnya adalah peternakan sapi dan ayam.

Telah terdapat fasilitas pendidikan yang cukup representatif, terbukti dengan keberadaan sarana pendidikan dari jenjang play group, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Islam, dan kursus komputer.

Tersedia juga fasilitas kesehatan berupa puskesmas, layanan posyandu, bidan, perawat, dan dokter praktek.
Secara administratif, Desa Buntaran terbagi menjadi 5 Rukun Warga, 23 Rukun Tetangga. Lembaga-lembaga desa yang telah aktif lainnya adalah LPMD, Tim Penggerak PKK, Karang Taruna, dan Badan Usaha Milik Desa.

Sejarah

Menurut data yang berhasil dikumpulkan dari sesepuh Desa Buntaran, bahwa Desa Buntaran pada jaman tahun 1915 masih berupa hutan jati, yang mulai ditebang oleh masyarakat Desa Buntaran hingga tahun 1816 dan phon jati tersebut ditebang hingga habis, yang selanjutnya ditanami jagung, setelah jagung mulai berbunga tanah tersebut disewakan kepada pabrik tapioka milik pemerintah Belanda untuk ditanami ketela pohon selama dua musim, 2 x 18 bulan. Kemudian tanaman ketela pohon yang pertama hasil panennya baik dan selanjutnya menjelang panen kedua ada musibah paceklik, mahal harga makanan dan wabah penyakit sehingga banyak orang yang meninggal dunia. Pada saat itu yang menjabat kepala desa bernama Tjokromojo atau yang menyewakan tanah pada waktu itu. Pada masa itu di Desa Buntaran terdapat organisai dengan nama Syari’at Islam (SI) yang diketuai oleh Bapak Murdjo. Organisasi tersebut mengetahui ada tanah yang menganggur walaupun masih dalam sewa yang kurang 8 bulan lagi. Dengan diketuai Bapak Murdjo dan dibantu sembilan orang, yaitu; Modjokromo, Siman Dipo, Karao Nawi, Sukromo, Dulrojak, dan Sutaruno Musadar menghadap Bupati Tulungaggung yang pada watu itu dijabat oleh Kanjeng Sosrodiningrat untuk meminta lagi tanah Desa Buntaran, sehingga menyebabkan kemahan Sang Kanjeng. Lalu tanah tersebut dipinjamkan ke desa-desa tetangga yang dikuasi hingga sekarang, diantara desa-desa tersebut adalah Desa Buntaran Sendiri, Desa Gilang, Desa Ariyojeding, dan Desa Tenggur.
Sejarah singkat Desa buntaran terdapat beberapa versi diantaranya; dulu ketika babad alas dimulai dari sukoharjo ke utara, dan wilayah Buntaran akan dijadikan tempat babad terakhir, disebut dengan istilah Buntaran. Sebelum membabat alas Buntaran di selatan wilayah ini ada alas yang banyak binatang tengunya, binatang kecil yang banyak menggigit orang. Sehingga wilayah tersebut di “gur-ne” atau ditinggalkan. Kemudian wilayah tersebut dinamakan Desa Tenggur. Sedangkan wilayah di utara tenggur ini dikenal sebagai tempat babad terakhir, buntar. Dikemudian hari wilayah Buntaran ini dikenal dengan sebutan Desa Buntaran. Adapun versi cerita berikutnya mengenai asal usul Desa Buntaran adalah dahulu kala pada jaman dalu dua kerajaan yang sedang berperang, yaitu antara Kerajaan Panjer dan Kerajaan Lonoyo. Di wilayah ini merupakan tempat ajang peperangan terakhir, akhirnya disebut Buntar, dan kemudian hari wilayah Buntar ini disebut atau dikenal dengan Desa Buntaran. Adapun beberapa tokoh-tokoh yang membabat Desa Buntaran, diantaranya;
  1. Mbah Galio Kromo, beliau merupakan pelarian tentaranya Pangeran Diponegoro yang lari ke wilayah ini pada tahun 1830 an.
  2. Raden Sudirjo, beliau juga pasukan Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke timur, dan juga membabat daerah Desa Buntaran.
  3. Cokro Medjo adalah orang pertama yang dikenal sebagai pemimpin pemerintahan pada tahun 1915-1926 Masehi.

Wilayah Desa

0
Dusun
0
Rukun warga
0
Rukun tetangga
Wilayah Dusun
Batas Wilayah

Visi & Misi

Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Tulungagung Melalui Peningkatan Sumberdaya Manusia Yang Profesional Berdasarkan Iman Dan Taqwa

  1. Peningkatan pelayanan pendidikan yang murah dan berkualitas serta pelestarian/pengembangan kebudayaan.
  2. Peningkatan pelayanan di bidang kesehatan yang murah dan berkualitas. 
  3. Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan baik, transparan, akuntable, responsif dan demokratis.
  4. Peningkatan pembangunan infrastruktur yang berbasis pemerataan pembangunan dan pengembangan wilayah untuk mendorong percepatan pembangunan sektor – sektor yang lain. 
  5. Pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis (UKM, pertanian, peternakan, perikanan, dan pariwisata serta perkebunan) melalui kegiatan kewirausahaan.
  6. Pengentasan dan penanggulangan kemiskinan dengan pola terpadu.

Perangkat Desa

* * * * *

WAKIT, S.H

Kepala Desa

Syamsuddin

Sekretaris Desa

Jumrotin Hidayati

Kaur Keuangan

Siti Aminasih

Kasi Pemerintahan

Sulistiyah

Staf Kesra

Ingin tahu statistik desa?

Semua data statistik tentang desa